Sebagaimana berbahayanya narkoba, pornografi juga
sangat mudah menghancurkan masa depan seorang anak. Sebuah penelitian
menunjukkan, anak-anak yang akrab dengan tayangan film porno akan tumbuh
menjadi orang dewasa yang menganggap kekerasan seksual sebagai hal
biasa.Sikap permisif pada kekerasan seksual ini, menurut Michael
Flood, peneliti, disebabkan mereka mendapat "pelajaran" dari media yang
salah.
"Pornografi adalah edukator seks yang buruk karena
menunjukkan hubungan seksual yang tidak realistis. Tidak ada film porno
yang bisa menunjukkan keintiman, cinta dalam sebuah hubungan atau
romantisme. Paling banyak sifat film porno adalah kasar dan kekerasan
pada perempuan," kata Flood.
Flood melakukan penelitian bertajuk The Australian Research Centre in Sex, Health and Society. "Ada
banyak bukti dari seluruh dunia bahwa pornografi berdampak negatif
bukan hanya pada individu, tapi juga komunitas," katanya.
Dalam
riset yang dilakukannya, ia juga menemukan bahwa anak-anak penggemar
film porno ini di usia dewasa sering gagal membina hubungan dengan
pasangan. Mereka juga lebih sering melakukan hubungan seksual tanpa
ikatan.
Para peneliti dari University of Montreal menyebutkan,
rata-rata seorang anak laki-laki pertama kali menonton film porno di
usia 10 tahun.
Di Inggris, seorang bocah berusia enam tahun
membawa gambar porno ke sekolah dan berakting melakukan adegan hubungan
seksual saat jeda pelajaran.
"Ketika kami mendatangi rumahnya,
sang ayah sedang mengunduh film-film porno dari internet dan ada banyak
gambar porno bertebaran di rumah," kata John Carr, Sekretaris Children's
Charities Coalition on Internet Safety.
Menurut Petra Boynton,
psikolog, pada umumnya anak-anak melihat materi pornografi karena mereka
merasa bosan dan kurang pengawasan. Oleh karena itu, ia mengingatkan
para orangtua untuk memberi pemahaman masalah seks pada anaknya secara
benar dan sehat.
Sabtu, 07 Februari 2015
Tertawa, Menyembuhkan tetapi Juga Bisa Mematikan
Mungkin kita sering mendengar manfaat dari tertawa. Bahkan,
aktivitas itu pun disebut-sebut sebagai obat terbaik karena dapat
menyembuhkan penyakit. Namun, menurut sebuah studi terbaru, tertawa
bukan obat yang terbaik karena bisa juga membahayakan.
Menurut studi tersebut, di samping manfaat yang didapatkan, tertawa juga berisiko lebih dari yang diduga. Para peneliti mengatakan, bahkan seorang wanita dapat mengalami sindrom jantung kolaps dan meninggal setelah tertawa.
Selain itu, tertawa terbahak-bahak juga mungkin menyebabkan pecahnya jantung, robeknya tenggorokan, dan memicu bangkitan epilepsi. Pasokan udara yang cepat saat tertawa dapat memicu serangan asma. Serta, bagi mereka yang menderita inkontinensia urine dan hernia, tertawa terbahak-bahak juga dapat memperparah keadaan tersebut.
Para peneliti dari Birmingham dan Oxford University menganalisis data dari tahun 1946 hingga akhir-akhir ini untuk mempelajari manfaat tertawa pada tubuh manusia. Mereka melakukannya saat badut penghibur pasien didatangkan ke rumah sakit.
"Hasilnya, dosis tertawa yang tanpa dibuat-buat bisa membantu mengurangi berat badan. Ini karena aktivitas tersebut efektif membakar kalori. Jika dilakukan sepanjang hari, tertawa bisa membakar sekitar 2.000 kalori," ujar peneliti.
Calon ibu yang menjalani terapi kesuburan juga 36 persen lebih bisa hamil saat dihibur komedian dibandingkan dengan kelompok yang tidak. Tertawa juga berkaitan dengan penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes dan mengurangi kekakuan pembuluh darah dan meringankan tekanan.
Kendati demikian, para peneliti juga menegaskan, memasukkan humor dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki risiko, meskipun kecil. Maka studi yang dipublikasi dalam The British Medical Journal tersebut mengingatkan untuk tidak berlebihan saat tertawa
Menurut studi tersebut, di samping manfaat yang didapatkan, tertawa juga berisiko lebih dari yang diduga. Para peneliti mengatakan, bahkan seorang wanita dapat mengalami sindrom jantung kolaps dan meninggal setelah tertawa.
Selain itu, tertawa terbahak-bahak juga mungkin menyebabkan pecahnya jantung, robeknya tenggorokan, dan memicu bangkitan epilepsi. Pasokan udara yang cepat saat tertawa dapat memicu serangan asma. Serta, bagi mereka yang menderita inkontinensia urine dan hernia, tertawa terbahak-bahak juga dapat memperparah keadaan tersebut.
Para peneliti dari Birmingham dan Oxford University menganalisis data dari tahun 1946 hingga akhir-akhir ini untuk mempelajari manfaat tertawa pada tubuh manusia. Mereka melakukannya saat badut penghibur pasien didatangkan ke rumah sakit.
"Hasilnya, dosis tertawa yang tanpa dibuat-buat bisa membantu mengurangi berat badan. Ini karena aktivitas tersebut efektif membakar kalori. Jika dilakukan sepanjang hari, tertawa bisa membakar sekitar 2.000 kalori," ujar peneliti.
Calon ibu yang menjalani terapi kesuburan juga 36 persen lebih bisa hamil saat dihibur komedian dibandingkan dengan kelompok yang tidak. Tertawa juga berkaitan dengan penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes dan mengurangi kekakuan pembuluh darah dan meringankan tekanan.
Kendati demikian, para peneliti juga menegaskan, memasukkan humor dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki risiko, meskipun kecil. Maka studi yang dipublikasi dalam The British Medical Journal tersebut mengingatkan untuk tidak berlebihan saat tertawa
Tertawalah, Manfaatnya Positif bagi Otak
Tertawa adalah obat terbaik. Bukan hanya bagi tubuh tapi juga untuk
otak. Berbeda dengan respon emosional yang hanya terbatas pada area
tertentu di otak, tertawa akan melibatkan berbagai area di seluruh otak.
Bukan hanya itu, sering mendengarkan humor dan melontarkan lelucon yang mengundang tawa juga mengaktifkan area otak yang penting dalam proses belajar dan kreativitas.
"Tertawa bisa membantu seseorang berpikir lebih luas dan menjalin relasi lebih bebas," kata psikolog Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence.
Oleh karena itu, warnailah hidup ini dengan tawa. Berikut beberapa cara untuk membuat kita lebih banyak tertawa.
- Tertawakan diri sendiri. Berbagi pengalaman yang memalukan dengan teman dekat misalnya.
- Bagikan. Kebanyakan orang akan senang menceritakan sesuatu yang lucu pada orang lain karena itu akan memberi kesempatan pada kita untuk tertawa lagi dan menemukan humor lainnya.
- Bergaul dengan orang yang fun. Ada orang-orang yang mudah tertawa, baik menertawakan dirinya sendiri atau sesuatu yang absurd. Berdekatan dengan orang-orang seperti ini bisa membuat kita tertular selera humor dan mudah tertawa.
- Perhatikan anak-anak. Mereka adalah makhluk yang ahli dalam bermain, melihat hidup secara santai, dan gampang tertawa
Bukan hanya itu, sering mendengarkan humor dan melontarkan lelucon yang mengundang tawa juga mengaktifkan area otak yang penting dalam proses belajar dan kreativitas.
"Tertawa bisa membantu seseorang berpikir lebih luas dan menjalin relasi lebih bebas," kata psikolog Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence.
Oleh karena itu, warnailah hidup ini dengan tawa. Berikut beberapa cara untuk membuat kita lebih banyak tertawa.
- Tertawakan diri sendiri. Berbagi pengalaman yang memalukan dengan teman dekat misalnya.
- Bagikan. Kebanyakan orang akan senang menceritakan sesuatu yang lucu pada orang lain karena itu akan memberi kesempatan pada kita untuk tertawa lagi dan menemukan humor lainnya.
- Bergaul dengan orang yang fun. Ada orang-orang yang mudah tertawa, baik menertawakan dirinya sendiri atau sesuatu yang absurd. Berdekatan dengan orang-orang seperti ini bisa membuat kita tertular selera humor dan mudah tertawa.
- Perhatikan anak-anak. Mereka adalah makhluk yang ahli dalam bermain, melihat hidup secara santai, dan gampang tertawa
Sudah Direhabilitasi, Mengapa Kembali Pakai Narkoba?
Berhenti menggunkan narkoba memang tak semudah
membalik telapak tangan bagi mereka yang sudah menjadi pecandu.
Rehabilitasi selalu menjadi cara untuk membantu seseorang berhenti
menggunakan obat-obatan terlarang itu.
Akan tetapi, rehabilitasi tak bisa menjamin mereka akan selamanya bebas dari narkoba. Semua tergantung pada individu masing-masing. Tak sedikit yang kembali menggunakan narkoba setelah berhenti selama beberapa tahun.
Seperti yang terjadi pada pemusik Fariz Rustam Munaf (56) atau yang akrab disapa Fariz RM. Setelah melewati masa rehabilitasi beberapa tahun lalu, ia kembali ditemukan tengah menyimpan narkotika jenis heroin, ganja, dan sabu di kediamannya di Perumahan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Selasa (6/1/2015).
Dokter spesialis kedokteran jiwa Danardi Sosro Sumihardjo mengatakan, ada beberapa faktor yang memicu seseorang bisa kembali memakai narkoba. Kesulitan untuk benar-benar berhenti menggunakan narkoba salah satunya karena gangguan memori di otak.
“Seseorang yang pernah menggunakan narkoba jenis apapun itu punya memori bahwa menggunakan itu (narkoba) enak. Itu yang sulit sekali orang-orang itu lupakan. Sulit sekali untuk tidak mencoba lagi,” ujar Danardi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/12/2014).
Rehabilitasi membantu seorang pecandu melawan memori negatif tersebut. Faktor lainnya yaitu berdasarkan karateristik seseorang. Danardi mengungkapkan, seorang pecandu biasanya adalah orang-orang yang tidak kuat menghadapi tantangan, menyukai sesuatu yang instan, mudah cemas, hingga depresi.
Ketika mengalami masalah atau kesulitan dalam hidupnya, mereka bisa kembali mengingat nikmatnya saat memakai narkoba.
“Sering kali tidak bisa belajar dari hidup bahwa tidak ada hidup yang tanpa beban, tidak ada hidup yang tanpa kesulitan. Apabila dia merasa dalam hidup ini kok susah, merasa dipersulit, itu akan jadi inget lagi sama narkoba,” terang Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa ini.
Menurut Danardi, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah seseorang kembali menggunakan narkoba.
Akan tetapi, rehabilitasi tak bisa menjamin mereka akan selamanya bebas dari narkoba. Semua tergantung pada individu masing-masing. Tak sedikit yang kembali menggunakan narkoba setelah berhenti selama beberapa tahun.
Seperti yang terjadi pada pemusik Fariz Rustam Munaf (56) atau yang akrab disapa Fariz RM. Setelah melewati masa rehabilitasi beberapa tahun lalu, ia kembali ditemukan tengah menyimpan narkotika jenis heroin, ganja, dan sabu di kediamannya di Perumahan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Selasa (6/1/2015).
Dokter spesialis kedokteran jiwa Danardi Sosro Sumihardjo mengatakan, ada beberapa faktor yang memicu seseorang bisa kembali memakai narkoba. Kesulitan untuk benar-benar berhenti menggunakan narkoba salah satunya karena gangguan memori di otak.
“Seseorang yang pernah menggunakan narkoba jenis apapun itu punya memori bahwa menggunakan itu (narkoba) enak. Itu yang sulit sekali orang-orang itu lupakan. Sulit sekali untuk tidak mencoba lagi,” ujar Danardi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/12/2014).
Rehabilitasi membantu seorang pecandu melawan memori negatif tersebut. Faktor lainnya yaitu berdasarkan karateristik seseorang. Danardi mengungkapkan, seorang pecandu biasanya adalah orang-orang yang tidak kuat menghadapi tantangan, menyukai sesuatu yang instan, mudah cemas, hingga depresi.
Ketika mengalami masalah atau kesulitan dalam hidupnya, mereka bisa kembali mengingat nikmatnya saat memakai narkoba.
“Sering kali tidak bisa belajar dari hidup bahwa tidak ada hidup yang tanpa beban, tidak ada hidup yang tanpa kesulitan. Apabila dia merasa dalam hidup ini kok susah, merasa dipersulit, itu akan jadi inget lagi sama narkoba,” terang Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa ini.
Menurut Danardi, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah seseorang kembali menggunakan narkoba.
Peran Keluarga Bantu Pecandu Lepas dari Ketergantungan Narkoba
Kehadiran keluarga sangat penting selama pecandu narkoba menjalani
rehabilitasi. Pendampingan keluarga yang tak pernah putus dapat membantu
pecandu narkoba untuk benar-benar berhenti menggunakan obat-obatan
terlarang itu. Dalam rehabilitasi, keluarga pun ikut mendapat terapi.
“Peran keluarga itu penting sekali. Sangat penting. Makanya dalam suatu terapi itu ada yang namanya family therapy,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Danardi Sosrosumihardjo saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2015).
Psikiater akan memberikan masukan pada keluarga bagaimana mengatasi seorang pemakai narkoba ketika kembali ke rumah. Dukungan dari keluarga tak bisa berhenti setelah pecandu berhasil melewati proses rehabilitasi.
Menurut Danardi, tidak ada satu perlakuan sama yang diberikan pada orang yang sudah menjalani rehabilitasi karena ini tergantung karateristik seorang pengguna narkoba tersebut.
“Keluarga memahami bahwa ini suatu proses untuk sembuh, melepaskan diri dari narkoba. Terlalu di-protect juga salah, tergantung karakter orangnya maunya seperti apa. Prinsipnya adalah dibangun suatu kepercayaan, si orang yang memakai narkoba juga harus sadar. Ini individual sifatnya,” terang Danardi.
Selain keluarga, kerabat dan lingkungan sekitar juga berperan untuk membuat seseorang tak lagi terjerumus dalam narkoba. Menurut Danardi, utamanya memang butuh kekuatan dalam diri seorang pengguna narkoba terlebih dahulu untuk berhenti.
“Untuk tidak mencoba (narkoba) lagi harus punya power yang sangat kuat,” kata Danardi.
Danardi mengatakan, tidak ada rehabilitasi yang menjamin 100 persen seseorang akan berhenti menggunakan narkoba seumur hidupnya. Namun, rehabilitasi akan sangat membantu seseorang yang berniat berhenti narkoba.
“Rehabilitasi itu adalah senjata. Kalau kita mau menggunakan senjata itu dengan baik, kita bisa terbebas seumur hidup. Kalau tidak, jatuh lagi, dan jatuh lagi,” ujar dia.
“Peran keluarga itu penting sekali. Sangat penting. Makanya dalam suatu terapi itu ada yang namanya family therapy,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Danardi Sosrosumihardjo saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2015).
Psikiater akan memberikan masukan pada keluarga bagaimana mengatasi seorang pemakai narkoba ketika kembali ke rumah. Dukungan dari keluarga tak bisa berhenti setelah pecandu berhasil melewati proses rehabilitasi.
Menurut Danardi, tidak ada satu perlakuan sama yang diberikan pada orang yang sudah menjalani rehabilitasi karena ini tergantung karateristik seorang pengguna narkoba tersebut.
“Keluarga memahami bahwa ini suatu proses untuk sembuh, melepaskan diri dari narkoba. Terlalu di-protect juga salah, tergantung karakter orangnya maunya seperti apa. Prinsipnya adalah dibangun suatu kepercayaan, si orang yang memakai narkoba juga harus sadar. Ini individual sifatnya,” terang Danardi.
Selain keluarga, kerabat dan lingkungan sekitar juga berperan untuk membuat seseorang tak lagi terjerumus dalam narkoba. Menurut Danardi, utamanya memang butuh kekuatan dalam diri seorang pengguna narkoba terlebih dahulu untuk berhenti.
“Untuk tidak mencoba (narkoba) lagi harus punya power yang sangat kuat,” kata Danardi.
Danardi mengatakan, tidak ada rehabilitasi yang menjamin 100 persen seseorang akan berhenti menggunakan narkoba seumur hidupnya. Namun, rehabilitasi akan sangat membantu seseorang yang berniat berhenti narkoba.
“Rehabilitasi itu adalah senjata. Kalau kita mau menggunakan senjata itu dengan baik, kita bisa terbebas seumur hidup. Kalau tidak, jatuh lagi, dan jatuh lagi,” ujar dia.
Hindari Kekerasan Fisik Saat Menghukum Anak
Berbeda dengan pola asuh orangtua generasi terdahulu yang cenderung
mendidik anak dengan keras dan otoriter, orangtua masa kini lebih
bersikap "toleran" kepada anak. Semakin jarang orangtua modern yang
memberikan hukuman fisik kepada anak yang dianggap "nakal".
Anna Surti Ariani, seorang psikolog anak dan keluarga, mengatakan bahwa menghukum anak sebenarnya boleh saja dilakukan asalkan anak sudah benar-benar tidak dapat ditegur secara halus. Namun, menghukum anak pun ada aturannya. Hukuman yang terlalu keras, misalnya hukuman fisik, bisa menimbulkan trauma pada anak.
"Prinsip menghukum anak, jangan ada kekerasan fisik," tutur Nina, panggilannya, dalam seminar edukasi bertajuk "Anak Sukses Berkat Orangtua Pintar" yang diadakan oleh Fonterra dan ChildFund di Jakarta, Kamis (20/6/2013).
Hukuman fisik berupa tamparan, cubitan, pemukulan, sebaiknya dihindari. Orangtua juga sebaiknya mampu menahan diri untuk tidak mengungkapkan kata-kata negatif saat menghukum anak.
Sebaliknya, hukuman bisa dilakukan dengan menyetrap ataupun mencabut hak anak. Namun, imbuh Nina, menyetrap atau mengondisikan anak dalam keadaan diam dan tidak boleh melakukan apa-apa dalam periode waktu tertentu juga ada aturannya.
"Bagi anak usia balita, penyetrapan sebaiknya tidak boleh dilakukan lebih dari satu menit. Penyetrapan juga tidak boleh dilakukan dengan posisi-posisi yang menyulitkan anak, seperti diikat di kursi, di tiang, menjewer telinga, dan sebagainya," papar Nina.
Sementara itu, penghukuman berupa mencabut hak lebih disarankan oleh Nina. Pencabutan hak dapat berupa tidak diberikan jatah camilan favorit atau tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang disukai anak untuk sementara waktu.
Anna Surti Ariani, seorang psikolog anak dan keluarga, mengatakan bahwa menghukum anak sebenarnya boleh saja dilakukan asalkan anak sudah benar-benar tidak dapat ditegur secara halus. Namun, menghukum anak pun ada aturannya. Hukuman yang terlalu keras, misalnya hukuman fisik, bisa menimbulkan trauma pada anak.
"Prinsip menghukum anak, jangan ada kekerasan fisik," tutur Nina, panggilannya, dalam seminar edukasi bertajuk "Anak Sukses Berkat Orangtua Pintar" yang diadakan oleh Fonterra dan ChildFund di Jakarta, Kamis (20/6/2013).
Hukuman fisik berupa tamparan, cubitan, pemukulan, sebaiknya dihindari. Orangtua juga sebaiknya mampu menahan diri untuk tidak mengungkapkan kata-kata negatif saat menghukum anak.
Sebaliknya, hukuman bisa dilakukan dengan menyetrap ataupun mencabut hak anak. Namun, imbuh Nina, menyetrap atau mengondisikan anak dalam keadaan diam dan tidak boleh melakukan apa-apa dalam periode waktu tertentu juga ada aturannya.
"Bagi anak usia balita, penyetrapan sebaiknya tidak boleh dilakukan lebih dari satu menit. Penyetrapan juga tidak boleh dilakukan dengan posisi-posisi yang menyulitkan anak, seperti diikat di kursi, di tiang, menjewer telinga, dan sebagainya," papar Nina.
Sementara itu, penghukuman berupa mencabut hak lebih disarankan oleh Nina. Pencabutan hak dapat berupa tidak diberikan jatah camilan favorit atau tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang disukai anak untuk sementara waktu.
Jangan Anggap Sepele, 10 Gejala Ini Bisa Jadi Tanda Kanker
Walau sering kali kehadiran sel kanker tidak kita rasakan dan baru
diketahui ketika sudah meluas, para ahli menyebutkan ada beberapa gejala
yang sering dianggap sepele tetapi bisa jadi merupakan tanda kanker.
Batuk terus-menerus, sakit yang sulit untuk disembuhkan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan perubahan cara kerja kandung kemih merupakan sebagian gejala kanker yang perlu diwaspadai.
Sebuah survei yang dilakukan oleh peneliti dari Cancer Research UK menemukan, hampir setengah dari orang yang memiliki setidaknya satu gejala utama dari kanker, memilih untuk tidak berkonsultasi dengan dokter dan hanya berpikir bahwa gejala yang mereka alami merupakan hal yang sepele.
Namun, para ahli menyarankan jika Anda atau anggota keluarga Anda menderita setidaknya satu dari 10 gejala tersebut, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Adapun 10 gejala tersebut yaitu:
1. Batuk yang tak kunjung sembuh atau suara serak bisa menunjukkan kanker paru-paru.
2. Perubahan penampilan tahi lalat yang menjadi makin besar dan gatal bisa berarti Anda menderita kanker kulit.
3. Perubahan kebiasaan atau gangguan buang air besar bisa menjadi tanda kanker usus.
4. Sakit yang tidak sembuh-sembuh, tergantung lokasinya, jika di ulkus mulut bisa berarti kanker mulut.
5. Kesulitan menelan bisa menjadi tanda kanker esofagus.
6. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan dan secara tiba-tiba dapat menunjukkan beberapa jenis kanker.
7. Perubahan terus-menerus dalam kebiasaan buang air kecil, ada darah di urine, bisa menjadi tanda dari kanker kandung kemih dan kanker prostat pada pria.
8. Munculnya benjolan bisa menjadi tanda peringatan dari berbagai bentuk penyakit.
9. Muncul rasa nyeri, tergantung lokasinya, dapat menunjukkan berbagai jenis kanker.
10. Pendarahan yang terus-menerus biasanya menunjukkan kanker usus atau kanker serviks.
Dr Katriina Whitaker, dari University College London, mengatakan, banyak orang sebenarnya memiliki salah satu dari gejala yang tertera di atas, tetapi mereka menganggap kondisi ini merupakan suatu hal yang sepele.
Kebanyakan mereka memilih tidak memeriksakan diri karena takut didiagnosis kanker, padahal mereka sudah memiliki salah satu gejala dari 10 tanda-tanda tersebut.
Terkadang gejala yang Anda alami belum tentu kanker, tetapi sebaiknya segala kondisi yang dialami langsung dikonsultasikan dengan dokter. Dengan demikian, setiap kondisi penyakit bisa diketahui sedini mungkin dan peluang kesembuhannya lebih besar
Batuk terus-menerus, sakit yang sulit untuk disembuhkan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan perubahan cara kerja kandung kemih merupakan sebagian gejala kanker yang perlu diwaspadai.
Sebuah survei yang dilakukan oleh peneliti dari Cancer Research UK menemukan, hampir setengah dari orang yang memiliki setidaknya satu gejala utama dari kanker, memilih untuk tidak berkonsultasi dengan dokter dan hanya berpikir bahwa gejala yang mereka alami merupakan hal yang sepele.
Namun, para ahli menyarankan jika Anda atau anggota keluarga Anda menderita setidaknya satu dari 10 gejala tersebut, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Adapun 10 gejala tersebut yaitu:
1. Batuk yang tak kunjung sembuh atau suara serak bisa menunjukkan kanker paru-paru.
2. Perubahan penampilan tahi lalat yang menjadi makin besar dan gatal bisa berarti Anda menderita kanker kulit.
3. Perubahan kebiasaan atau gangguan buang air besar bisa menjadi tanda kanker usus.
4. Sakit yang tidak sembuh-sembuh, tergantung lokasinya, jika di ulkus mulut bisa berarti kanker mulut.
5. Kesulitan menelan bisa menjadi tanda kanker esofagus.
6. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan dan secara tiba-tiba dapat menunjukkan beberapa jenis kanker.
7. Perubahan terus-menerus dalam kebiasaan buang air kecil, ada darah di urine, bisa menjadi tanda dari kanker kandung kemih dan kanker prostat pada pria.
8. Munculnya benjolan bisa menjadi tanda peringatan dari berbagai bentuk penyakit.
9. Muncul rasa nyeri, tergantung lokasinya, dapat menunjukkan berbagai jenis kanker.
10. Pendarahan yang terus-menerus biasanya menunjukkan kanker usus atau kanker serviks.
Dr Katriina Whitaker, dari University College London, mengatakan, banyak orang sebenarnya memiliki salah satu dari gejala yang tertera di atas, tetapi mereka menganggap kondisi ini merupakan suatu hal yang sepele.
Kebanyakan mereka memilih tidak memeriksakan diri karena takut didiagnosis kanker, padahal mereka sudah memiliki salah satu gejala dari 10 tanda-tanda tersebut.
Terkadang gejala yang Anda alami belum tentu kanker, tetapi sebaiknya segala kondisi yang dialami langsung dikonsultasikan dengan dokter. Dengan demikian, setiap kondisi penyakit bisa diketahui sedini mungkin dan peluang kesembuhannya lebih besar
Langganan:
Postingan (Atom)